Minggu, 24 Maret 2019

NASKAH MIMBAR AGAMA HINDU (HARI RAYA NYEPI)


Topic               : Hari Suci
Judul                : Makna Filosafis Hari Raya Nyepi
Penulis             : ADE NITA SARI
Durasi              :
Host                 : IDA BAGUS KOMANG PERSADA
Narasumber    :

Seri
Agama
Topic
Hari Suci
Sasaran
Semua Kalangan
Tujuan
1. Penjelasan Hari Raya  Nyepi dan Pemaknaannya
2. Sumber Hukum Hari Raya Nyepi dalam Kitab Suci Veda
3. Penerapan Hari Raya Nyepi di Kehidupan Masyarakat Hindu
4. manfaat Hari Raya Nyepi
Durasi

Synopsis
Hari Raya Nyepi jatuh pada pinanggal pisansasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.
Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.
Simpulan :
1. melalui pandangan dan pemikiran yang jernih akan meningkatkan nilai spiritual pada diri.
2. Dengan niat yang suci tulus dan iklas akan memberikan jalan terbaik untuk diri sendiri maupun orang lain.
3. untuk mecapai kebebasan rohani membutuhkan suatu pengorbanan tampa ada perasaan terpaksa.
Host
Opening (music/sloka)
Host
Lanjutan dan Pengantar
Host
Bagaimana Pandangan Ibu tentang Hari Raya Nyepi dan Pemaknaannya
Narasumber
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di masyarakat hindu nusantara dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, namun tidak untuk rumah sakit.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu Nusantara.
Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus umat hindu nusantara, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Host
Bagaimana pandangan sumber hukum hindu tentang hari Raya Nyepi Dalam Kitab suci Veda
Narasumber
Adapun pandangan sumber hukum menurut kitab suci Veda
lontar Sri Aji Kasanu
·         Pada tilem sasih kesanga, patut mengadakan upacara Bhuta Yadnya, yaitu caru yang disebut dengan ‘’tawur’’. Dilanjutkan dengan nyepi satu malam.
Lontar sundari Gama
·         Pada hari Tilem Sasih/Bulan Chaitra/kesanga, merupakan hari penyucian para dewa semua, mengambil air kehidupan yang ada di tengah – tengah lautan, oleh karena itu patutlah semua manusia/umat hindu melakukan persembahyangan kepada para dewa, melalui suatu upacara, menurut kemampuannya, pada hari purwani tilem kesanga agar melaksanakan upacara Bhuta Yajna di perempatan jalan raya…, besoknya di waktu tilem, agar melaksanakan upacara melasti kelaut, mensucikan pratima, keesokan harinya melaksanakan nyepi dengan tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan antara lain, menghidupkan api di semua tempat.
Berdasarkan kutipan dari kedua lontar tersebut, dijelaskan bahwa, Hari Raya Nyepi dilaksanakan setelah di adakan upacara Bhuta Yajna yang juga disebut Tawur Kesanga.
Host
Bagaimana Penerapan Hari Raya Nyepi di kehidupan Masyarakat Hindu
Narasumber
Adapun penerapan hari Raya Nyepi di kehidupan masyarakat hindu
1.  Amati Geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), ( amati geni yg di maksud adalah bagaimana kita harus mampu mengendalikan hawa nafsu atau keinginan  untuk kepentingan yang baik), contohnya : kita tidak boleh tergoda dengan makanan dan apapun itu yg memuaskan nafsu kita harus bisa mengenalikan/mengontrol diri dari godaan.

2. Amati karya (tidak bekerja), ( amati karya yg dimaksud dlm kehidupan sehari hari adalah hendaknya kita sebagai manusia wajib untuk menghindari atau tidak melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan nilai nilai agama atau dharma sehingga bisa merugikan diri kita masing-masing), contohnya : apabila kita akan melakukan suatu pekerjaan kita harus berfikir terlebih dahulu apakah pekerjaan itu baik untuk di lakukan dalan ajaran hindu

3. Amati lelungan (tidak bepergian), ( amati lelungan yg di maksud dalam kehidupan sehari hari meliputi pengendalian pikiran agar pikiran tetap konsen atau fokus apapun yg sedang kita kerjakan artinya bahwa tidak berpergian di maksud adalah pengendalian pikiran atau jangan di biarkan pikiran itu liar), contoh : kita diajarkan untuk mengendalikan diri dan ego agar kita bisa duduk hening bukan berkeliaran di luar rumah atau melakukan kegiatan dengan orang lain.

4. Amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan atau tidak bersenang senang.) ( tidak bersenang senang di maksud adalah hendaknya ita mampu menendalikan indria indria kita melalui upavasa untuk mengendalikan diri kita terkait makanan karena makanan menjadi faktor yang paling dominan terhadap kesehatan jasmani maupun kesehatan rohani) contoh: disaat kita akan memakan sesuatu kita harus berfikir terlebih dahulu makanan tersebuat baik atau tidaknya untuk tubuh dan kesehatan.
Host
Apa manfaat yang di proleh pada Hari Raya Nyepi
Narasumber
Manfaat yang di proleh pada hari raya nyepi baik individu mapun sosial

Individu
sosial
1. meningkatkan pengendalian diri
2. mengendalikan hawa Nafsu
1. menghemat listrik
2. Hemat BBM
3. Mengistirahatkan peralatan dan Mesin
4. Turunkan Polusi
5. mendekatkan Hubungan Keluarga
6. mengistirahatkan tubuh, mata dan otak

Adapun Pesan moral yang dapat disampaikan pada masyarakat hindu nusantara
1. setiap manusia mempunyai kewajiban untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang dapat berdampak pada kesehatan jasmani dan rohani
2. hendaknya umat hindu nusantara dapat mengandalikan hawa nafsu dalam diri  agar dapat meningkatkat spiritual diri.




JUDUL : Contoh Naskah Mimbar Agaa Hindu ( Hari Raya Nyepi)
NAMA : Ade Nita Sari
NIM : 1609 10 0041
DOSEN PENGEMPU : Yan Mitha Djaksana M.Kom
NAMA KAMPUS : Sekoah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

Rabu, 20 Maret 2019

CERITA LOMBA NGELAWAR ( STAH Dhara Nusantara Jakarta)


Pada tanggal 26 februari 2019 Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta, melaksanakan lomba Ngelawar dimana Lomba Tersebut untuk Memperingati Tahun Baru Caka/Nyepi, dan dimana kegiatan tersebut merupakan program Tahunan BEM. Sehari sebelum Hari perlombaan saya mewakili Tim untuk membeli bahan bahan yag di perlukan untuk lomba, tepatnya di pasar malam klender dimana dengan bajet Rp. 200.000; harus mendapatkan semua bahan yang di perlukan dan saya pun melakukan interaksi tawar menawar kepada pedagang mungkin karena pedagang pusing mendengarkan saya banyak bicara dan saya pun di kasih potongan harga, dan yang terakhir saya pun membeli nangka lalu saya menanyakan harga, saya pun kaget mendengarkan harga karena harganya naik 2x lipat setelah itu saya melakukan proses tawar menawar dan pada akhirnya harganya pun tidak di kasih kurang, saya pun langsung pergi mencari pedagang lain dan pada akhirnya saya menemukannya dan saya pun melakukan proses tawar menawar saya pun dapet potongan harga walaupun sedikit dan kemudian saya pulang ke kos.
Keesokan harinya saya pun bangun kesiangan tepatnya pukul 6.45 am, sedangkan acara ngelawar akan di mulai pukul 7.30 am, saya pun bergegas menyiapkan semua barang – barang dan bahan yang akan di pergunakan setelah itu saya mandi, setelah mandi saya pun bergegas untuk berangkat. Sesampai di kampus  kelompok saya pun baru baru ada 2 orang yang datang dan 3 orang lainnya belum datang, dalam 1 tim/kelompok terdapat 6 orang dan peserta lomba pun ada skitar 6 kelompok, saya dan tean saya mencoba menghubungi rekan yg belum hadir tetapi mereka malah menyepelekan dan akhirnya saya pun mengamuk lewat telvon kalau dalam 15 menit mereka tidak datang maka tangung resiko sendiri, mereka pun datang dan ada yg terpaksa tidak mandi dan waktu lomba pun di undur sampai jam 09.00, dan lomba pun di mulai kami pun membagi tugas agar semua seesai tepat waktunya, pada pukul 12.00 kami pun selesai masak dan sudah menyiapkan masakan kami di meja penilaian, setelah peniaian dan makan makan bersama tepatnya pukul 13.00 akhirnya hal yg di tunggu tunggu pun  telah tiba dan kelompok saya pun dapet juara 1 acara pun selesai, kami pun langsung bergegas untuk pulang kerumah masing masing.
Pesan yang dapat saya sampaikan bahwa, apa bila ingin mendapatkan hasil yang maksimal kita harus bekerja sama dan saling membantu sesama 1 tim , dan jangan lupa saling mengingatkan dan menerima perbedaan dari pemikiran masing masing, karena perbedaan itu indah.

JUDUL : Cerita Lomba Ngelawar
NAMA : Ade Nita Sari
NIM : 1609 10 0041
DOSEN PENGEMPU : Yan Mitha Djaksana M.Kom

NAMA KAMPUS : Sekoah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

KARMA PHALA & BAGIAN BAGIANNYA

Hasil gambar untuk karmaphala
Dari segi etimoslogi kata karma berasal dari bahasa Sangsekerta, yaitu dari urut kata kri yang artinya berbuat, sedangkan Phala yang juga berasal dari Bahasa Sangsekerta yang berarti buah/hasil. Dari uraian kata tersebut, maka karma phala dapat di artikan perbuatan yang di dalamnya terkandung sebab akibat yang di lahirkan seperti apa yang telah tersurat dalam filsafat hindu bahwa karma phala sudah terkandung arti segala perbuatan dan akibatnya.
                Karma Phala adalah bagian dari Panca Cradha yang merupakan pokok keimanan agama Hindu. Percaya terhadap adanya Karma merupakan sesuatu yang harus di wujudkan dalam diri masing – masing sehingga dengan demikian ajaran karma phala dapat di gunakan sebagai pedoman oleh umat hindu dalam kehidupan. Apabila setiap umat hindu dalam mencapai tujuan hidupnya selalu pedoman terhadap ajaran karma, maka akan terwujudlah kehidupan yang damai dan bahagia.
                Segala yang di buat oleh manusia akan membawa akibat yaitu ada yang baik da nada yang buruk. Akibat yang baik akan memberikan kesenangan dan kebahagiaan, sedangkan akibat yang buruk memberikan kesusahan dan kesengsaraan. Oleh karena itu hendaknya seseorang berbuat baik, karena semua orang mendambakan adanya kesenangan, ketenangan, dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Adapun sloka yang membahas tentang Karma dalam Kitab Suci di sebutkan sebagai berikut:

1. niyatam kuru karma tvam, karma jyayohy akarmanah, sarirayatra pi ca te, na prasidhyed akarmanah.
Artinya :
Lakukanlah pekerjaan yang di berikan padamu,karena melakukan peruatan itu lebih baik sifatnya dari pada tidak melakukan apa-apa, sebagai juga untuk memelihara badanmu tidak akan mungkin jika engkau tidak bekerja (Bhagawad Gita III,8.42).

2. Acodyamanami yatha puspani, ca phalami ca, swam kalam natiwartante tatha karma pura krtam. Mwang menget ri masanya tikang purwa karmaphala ngaranya umatang awaknya kramanya, tan kena tinulak, luput dinohaken, kadi angganing puspaphala, an an mengetri masanya, dumani cariranya.
Artinya :
Dan ingat lagi pada masanya yang di sebut buah hasil perbuatan dulu itu, artinya mendatangkan dirinya sendiri, tidak dapat di tolak, tidak dapat di jauhkan sebagai halnya bunga-bunga dan buah – buahan yang ingat pada musimnya, itulah seakan – akan mengingatkan dirinya.

                Dari Sloka kitab Suci di atas, akan dapat memotivasi setiap orang untuk berbuat baik dalam hidupnya, karena semua itu akan dapat mengantarkan seseorang pada kehidupan yang lebih baik didunia dan pula sesudahnya.  Dalam weda dinyatakan bahwa jalan perbuatan atau Karma Yoga, sama pentingnya dengan jalan pengetahuan, karena perbuatan di pandang sebagai bagian yang amat penting dari kehidupan ini. Hidup menurut pengertian Weda, tidak semata – mata mementingkan kehidupan keduniawian, tetapi juga menyangkut kehidupan moral dan spiritual.



2. Bagian – Bagian Karma Phala
                Pada hakekatnya manusia tidak dapat lepas dari karma dan akibatnya, karena Karma bersifat alami. Sehubungan dengan itu Karma Phala dapat di kelompokan menjadi tiga jenis sesuai dengan perbuatan yang di lakukan.
1. Sancipta Karma Phala
                Dimana hasil perbuatan yang di lakukan oleh seseorang dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmatinya sehingga hasil perbuatannya itu akan menjadi benih yang sangat menentukan pada kehidupan yang sekarang. Dengan demikian setiap kelahiran seseorang ke dunia ini telah membawa Phala dari Karmanya masing – masing dari kehidupan yang lalu. Apabila seseorang menyadari hal ini maka seseorang tidaklah menyesal dengan apa yang di alaminya dalam hidup ini.
2. Prarabda Karma Phala
                Karma yang di lakukan oleh seseorang pada kehidupan sekarang ini, phalanya dinikmati pula dalam kehidupan ini sehingga tiada sisanya lagi untuk dinikmati pada kehidupan yang akan datang.
3. Kriyamana  Karma Phala
                Hasil perbuatan seseorang yang belum sempat dinikmati pada waktu hidupnya dan akan dinikmati pada masa penjelmaan yang akan datang.
                Semua karma yang di lakukan oleh seseorag akan dinikmati hasilnya secara cepat atau lambat, tetepi pasti. Phala itu akan datang sendirinya dan akan mencari orang yang berbuat, karena hal ini merupakan hukum yang haru terjadi, baik di sadari atau tidak oleh orang tersebut atau yang bersangkutan, maka atas dasar ajaran Agama Hindu selalu disarankan agar seseorang berbuat baik dan tidak menyimpang dari Ajaran Dharma.

Judul : KARMA PHALA & BAGIAN-BAGIAN NYA
Nama : Ade NIta Sari
Nim : 1609 10 0041
Nama kampus : sekolah tinggi agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta
Nama Dosen Pengempu : Yan Mitha Djaksana M.Kom
Tugas : UTS